Tidak Normalkah Punk?

Seperti kita tahu bahwa beberapa saat lalu muncul berita bahwa terjadi penangkapan beberapa anak punk di Aceh oleh aparat kepolisian ketika diselenggarakannya sebuah konser musik.
Dari beberapa sumber berita seperti di situs ini, ini, ini dan ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwa penangkapan tersebut bukanlah karena mereka melakukan tindak kriminal, namun aparat kepolisian “hanya sekedar” membantu polisi syariah dalam menegakkan hukum adat dan hukum syariat. Dan punk dianggap ancaman dan tidak sesuai hukum adat dan syariah.
Jika kita berasumsi bahwa berita pada sumber yang saya sebutkan tadi benar, saya rasa ada beberapa hal yang kurang pas dalam penangkapan tersebut.
Disebutkan bahwa “Didampingi pengurus Komite Pengutan Aqidah dan Peningkatan Amalan Islam (KPA-PAI) Wirzaini Usman, ia mengatakan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk memberikan pembinaan agar mereka kembali hidup normal”. Pertanyaannya adalah, hidup normal itu yang seperti apa? Hanya karena berbeda, apakah lantas berhak melabeli orang lain sebagai “tidak normal” dan boleh ditangkap padahal tidak melakukan tindakan kriminal?
Dengar-dengar, konser yang diselenggarakan komunitas tersebut adalah konser amal. Kalau memang begitu adanya, bukankah positif sekali kegiatan tersebut? Namun coba baca salah satu statemen dari Kepala Polresta Banda Aceh yang tertulis di salah satu artikel tersebut: Read more…
Mengapa SYIFA?
Setelah sebelumnya saya menjelaskan tentang nama Kaniraras, Edelweiss dan keseluruhan arti nama anak saya, tidak lengkap kalau saya tidak bercerita mengapa “Syifa” saya pilih menjadi nama anak saya.
“Syifa” memang nama yang umum dan sering digunakan. Tapi bagi saya tetap saja spesial, karena kisah tokoh sahabat Rasul yang bernama Asy-Syifa memang lah sangat spesial.
Sahabiyah Rasul ini bernama Laila, namun lebih dikenal dengan nama Asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab al- Qurasyiyyah al-Adawiyah. Asy-Syifa’ ra masuk Islam sebelum hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk wanita yang berba’iat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Read more…
Mengapa KANIRARAS?
Sejak jadi seorang ayah, saya jadi sering sekali pamer. Pamer foto anak, pamer aktivitas bersama anak dan juga pamer artikel yang saya tulis tentanga anak saya. Hehehe…Maklum lah, ayah baru…
Beberapa waktu lalu saya sudah berbagi cerita mengenai kelahiran anak saya, cerita singkat arti nama yang saya berikan dan kisah lain di balik nama Edelweiss, kali ini saya ingin “pamer” mengapa saya memberi nama “Kaniraras” kepada anak pertama saya.
Hal itu berawal ketika saya menyiapkan nama untuk calon anak saya. Sejak awal saya memang sudah berencana untuk memberikan nama yang berunsur wayang dan arab (islami), karena seperti sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya bahwa nama adalah identitas.
Saat itu nama laki-laki sudah selesai saya siapkan. Namun belum siap untuk nama perempuan. Penyebabnya adalah saya sedikit kesulitan mencari nama tokoh wayang perempuan yang bisa saya “comot”. Memang banyak sih tokoh wayang perempuan, namun saya sengaja mencari nama yang tidak terlalu sering digunakan kebanyakan orang. Read more…
Mengapa Edelweiss?

Sesuai janji saya di artikel sebelumnya, saya akan menceritakan alasan lain mengapa nama Edelweiss saya pilih untuk anak saya. Disamping arti kata dan makna Edelweiss seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya tersebut, saya mempunyai kisah tersendiri mengapa Edelweiss saya jadikan nama untuk putri pertama saya. (iiiih…jadi maluuuu…)
Dulu saya sering sekali naik gunung, kira-kira pada saat SMA dan kuliah. Awal mula hobi tersebut karena saat SMA saya tergabung dalam organisasi pecinta alam di SMA saya (SMA 8 Yogyakarta).
Pada tahun pertama mengenal aktivitas pendakian, saya sangat antusias sekali. Setiap mendaki gunung, saya selalu mengambil batu/kerikil untuk kenang-kenangan bahwa dulu saya pernah mendaki gunung tersebut. Kadang saya juga memberikan kepada istri saya yang saat itu masih teman dekat, ya sebut aja pacaran atau calon istri. Dengan sok gagah saya berikan sebagai kenang-kenangan dengan sedikit rasa pamer di hati “hebat kan bisa sampai puncak gunung”.
Nah suatu saat pada saat pertama kali mendaki Gunung Merbabu tahun 2001, saya baru tahu ada bunga Edelweiss (atau banyak yang bilang Edelweiss Jawa). Kawan-kawan bilang itu adalah bunga keabadian karena tidak dapat layu walau sudah dipetik.
Dengan sedikit berjiwa romantis, saya ambilkan seikat Edelweiss itu kemudian saya ikat dengan benang merah. Sesampai di kota, saya serahkan bunga itu kepada calon istri saya. Bunga Edelweiss perlambang cinta abadi saya, dan benang merah perlambang cinta. Begitu maksud saya saat itu. Walau sebenarnya saya bukanlah orang yang romantis (bahkan cenderung cuek bebek), tapi entah waktu itu terpikir begitu saja.
Sejak bergabung dengan pecinta alam di SMA, saya menjadi tertarik dengan isu-isu lingkungan. Ketertarikan tersebut membuat saya senang membaca artikel tentang lingkungan. Hingga akhirnya pada tahun sekitar 2003, saya membaca artikel bahwa bunga Edelweiss ternyata bunga yang langka. Sudah sedikit sekali jumlahnya. Read more…
Kaniraras Syifa Edelweiss

Alhamdulillah (tanpa “sesuatu banget ya…”)… Anakku lahir…Selamat dan sehat…
Hari itu memang seperti hari-hari Sabtu biasa. Yang berbeda hanya tanggalnya. Sabtu itu tanggal 19 November 2011. Saya pulang ke Jogja sebagai rutinitas mingguan. Maklum perantau mingguan
Bahkan rencananya, Sabtu itu saya akan masak bersama istri seperti hari sabtu biasanya. Tapi sejak pagi kok istri saya selalu merasakan kontraksi yang intens setiap 5 menit. Karena dulu pernah terjadi kontraksi palsu, jadi hari itu istri saya tidak mau langsung dibawa ke rumah sakit. Mau menunggu dulu sampai jam 12 siang. Karena beberapa hari sebelumnya juga pernah terjadi pendarahan dan kontraksi serupa, namun setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata kontraksi palsu dan belum ada tanda-tanda pembukaan.
Saat itu pun tidak terpikir akan terjadi proses kelahiran. Mengingat hari perkiraan lahirnya tanggal 30 November 2011. Namun hingga pukul dua belas siang, kontraksi masih terus terjadi. Akhirnya kami ke rumah sakit. Setelah dibawa di rumah sakit, ternyata memang sudah pembukaan kedua. Sekitar jam 2 siang, istri saya dipindahkan ke kamar bersalin. Ketuban pecah tepat pukul 4. Saat itu diperiksa masih pembukaan 2. Perawat yang memeriksa memperkirakan bayi baru lahir setelah 10 jam kemudian. Tapi setelah ketuban pecah, kontraksi semakin menjadi-jadi. Akhirnya jam setengah enam perawat memeriksa lagi dan ternyata sudah pembukaan sempurna.
Tepat ketika adzan magrib terdengar, proses melahirkan dimulai. Tidak sampai setengah jam (pukul 17.55 WIB), keluarlah seonggok daging bernyawa bernama manusia, yang mana itu adalah anak saya. Merah terkena darah. Ari-ari masih menempel. Jenis kelamin perempuan, sesuai dengan hasil USG 4 dimensi-nya.
Perasaan deg-degan hilang sudah, setelah melihat anak saya dinyatakan sehat dan normal. Sejak istri masuk ke ruang persalinan memang saya sama sekali tidak khawatir, malah kadang ketika istri kesakitan karena kontraksi saya guyoni “Lha opo gunane melu hypnobirthing nek ijih loro…(lha apa gunanya ikut hypnobirthing kalau masih sakit)”…hehehe….Tapi ketika alat-alat untuk proses melahirkan disiapkan, baru deh mulai deg-deg serrr …Berbagai kekhawatiran tiba-tiba muncul…Bagaimana kalau begini…Bagaimana nanti kalau begitu..Dan sebagainya..Namun saya harus tenang dan telihat santai. Karena kalau saya justru panik, tentu akan mempengaruhi psikis istri saya. Itu yang pernah saya baca di buku. Dan saat itu harus saya praktekkan. Untung proses berjalan benar-benar cepat, tidak lebih dari setengah jam. Sehingga saya tidak perlu terlalu lama senam jantung dan macak santai.
Tak henti-hentinya saya bersyukur. Betapa tidak? Semua doa saya benar-benar dikabulkan oleh-Nya. Dalam doa, secara rinci saya meminta agar anak saya lahir pada hari sabtu/minggu agar saya dapat menunggui. Saya memohon pula agar kelahiran dapat berjalan cepat dan normal, tidak cesar. Semua dikabulkan. Bahkan Allah memberikan bonus lebih, oleh kantor saya ditugaskan dinas ke Jogja dari tanggal 22-30 November 2011. Alhamdulillah (sekali lagi tanpa “sesuatu banget ya…”). Puas deh bermain dengan anak.
Nama
Sejak awal kehamilan saya memang sudah mencari-cari nama untuk dua jenis kelamin. Dan pada saat kehamilan berjalan sekitar 6-7 bulan, saya sudah mendapatkan nama yang tepat untuk dua jenis kelamin. Setelah USG menunjukkan bahwa jenis kelaminnya kemungkinan perempuan pun, nama laki-laki yang saya siapkan pun tetap saya simpan. Dan nama-nama itu tidak ada yang saya beritahu, bahkan istri saya. Hingga bayi lahir, baru lah semua saya beritahu
Andai yang lahir adalah laki-laki, nama yang saya siapkan adalah Read more…



