Oleh Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Genjer genjer, lagu indah yang terdzalimi
Kawan-kawan mungkin tahu lagu Genjer genjer. Lagu yang dipopulerkan salah satunya oleh Lilis Suryani itu dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai lagu komunis (atau mungkin lebih tepatnya PKI). Saya sendiri mendengar cerita tentang lagu ini ketika masih SD atau SMP, ketika nguping pembicaraan orang tua sewaktu menonton film ”dokumenter” G30/S PKI. Yang saya dengar waktu itu, Genjer genjer adalah lagunya kaum komunis di Indonesia waktu itu dan tidak boleh lagu dinyanyikan. Namun, baru mendengar secara lebih seksama ketika masih kuliah. Lagu yang saya miliki tersebut dinyanyikan oleh Lilis Suryani dengan versi bahasa Banyuwangi (karena dengar-dengar ada pula versi bahasa jawa tengahnya).
Lagu itu memang bagus (kalau menurut saya). Easy listening, liriknya simple sehingga mudah diingat (bahkan mungkin oleh bukan orang banyuwangi). Karena waktu itu penasaran kenapa lagu ini dilarang, maka kemudian browsing di Internet mencari lirik-liriknya. Setelah membaca liriknya, ternyata malah membuat saya semakin penasaran. Kenapa? Karena ternyata liriknya tidak mengandung bau-bau PKI. Yang tercium malah bau menyan (gara-garanya sewaktu saya membaca liriknya itu, ada orang bakar menyan disamping rumah :p )
Selama ini kita mendapatkan informasi mengenai berbagai macam berita melalui banyak media. Koran, poster, flyer, radio, televisi, internet dan berbagai macam media lainnya. Keberadaan media-media tersebut seolah sudah tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana tidak, beberapa hari tidak mengakses berita-berita dari media tersebut saja, kita sudah seperti katak dalam tempurung.
Ya. Informasi atau berita adalah kebutuhan primer untuk saat ini. Bukan hal yang berlebihan jika ada yang bilang bahwa siapa yang tidak mau tahu mengenai informasi dan berita terkini dapat tergilas oleh jaman.
Berita dan informasi yang kita dapat dari media-media tersebut dapat sangat-sangat mempengaruhi apa yang akan terjadi kemudian di sekitar kita. Oleh karenanya, media-media tersebut sangat berpotensi menjadi sebuah alat penggiring opini publik yang sangat dapat diandalkan. Jadi tidak mengherankan kalau sebuah pemerintahan otoriter di suatu negara akan sangat membatasi pemberitaan di media-media tersebut.
sumber: mas ibnu saud di sini
***
Kalen kono! Kosakata itu sudah berusia lebih dari sepuluh tahun. Lebih dari cukup untuk membuat saya familiar, dan kembali menganggapnya sebagai kata-kata biasa.
Bukan, bukan kosakata itu yang saya maknai. Tetapi, kosakata itu sering menjadi penanda, mengingatkan saya untuk membuka kembali kunci-kunci ingatan pada kata lain. Kata yang sering saya ingat-ingat ketika bertemu dengan gagasan tentang ikhlas.
Bagi saya, kalen kono! mengingatkan saya untuk ke kalen sana. Sebab di kalen sana, ada hal yang bisa dicermati. Ya, di kalen sana, ada orang buang air. Ngising, bahasa jawanya. Mau dihaluskan dengan kata-kata ’badhe dhateng wingking’ pun, sebenarnya tetap sama: ngising. Tak ada yang jorok dengan kata-kata itu. Tak ada. Masalahnya cuma satu, kita sudah terlanjur sepakat bahwa kata ngising bukan digunakan untuk menjelaskan tindakan menuangkan nasi ke piring, memberinya sayur dan lauk, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Itu saja.
read more…
Berapa jumlah korban yang jatuh karena hanya beda kulit?
Berapa kerugian yang ditimbulkan karena beda tim favorit sepakbola?
Berapa banyak caci maki keluar hanya karena beda cara berpakaian?
Berapa banyak perkelahian lahir hanya karena beda selera musik?
Berapa darah yang keluar hanya karena beda keyakinan beragama?
Jawabannya hanya satu: banyak sekali!
Ada hitam ada putih, ada minus ada plus, ada langit ada bumi. Itu semua dua hal yang berbeda. Tidak hanya berbeda, tapi mungkin malah berlawanan. Dan ada berbagai macam perbedaan lainnya dalam berbagai hal di dunia ini. Yang sebagian merupakan hal yang berlawanan. Dari hal-hal berbeda tersebut pasti melahirkan suatu ”gesekan-gesekan” antar sesama manusia. Kulit, klub sepakbola, fashion, musik hanya beberapa contoh kecil saja.
