Kaniraras Syifa Edelweiss

Alhamdulillah (tanpa “sesuatu banget ya…”)… Anakku lahir…Selamat dan sehat…
Hari itu memang seperti hari-hari Sabtu biasa. Yang berbeda hanya tanggalnya. Sabtu itu tanggal 19 November 2011. Saya pulang ke Jogja sebagai rutinitas mingguan. Maklum perantau mingguan
Bahkan rencananya, Sabtu itu saya akan masak bersama istri seperti hari sabtu biasanya. Tapi sejak pagi kok istri saya selalu merasakan kontraksi yang intens setiap 5 menit. Karena dulu pernah terjadi kontraksi palsu, jadi hari itu istri saya tidak mau langsung dibawa ke rumah sakit. Mau menunggu dulu sampai jam 12 siang. Karena beberapa hari sebelumnya juga pernah terjadi pendarahan dan kontraksi serupa, namun setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata kontraksi palsu dan belum ada tanda-tanda pembukaan.
Saat itu pun tidak terpikir akan terjadi proses kelahiran. Mengingat hari perkiraan lahirnya tanggal 30 November 2011. Namun hingga pukul dua belas siang, kontraksi masih terus terjadi. Akhirnya kami ke rumah sakit. Setelah dibawa di rumah sakit, ternyata memang sudah pembukaan kedua. Sekitar jam 2 siang, istri saya dipindahkan ke kamar bersalin. Ketuban pecah tepat pukul 4. Saat itu diperiksa masih pembukaan 2. Perawat yang memeriksa memperkirakan bayi baru lahir setelah 10 jam kemudian. Tapi setelah ketuban pecah, kontraksi semakin menjadi-jadi. Akhirnya jam setengah enam perawat memeriksa lagi dan ternyata sudah pembukaan sempurna.
Tepat ketika adzan magrib terdengar, proses melahirkan dimulai. Tidak sampai setengah jam (pukul 17.55 WIB), keluarlah seonggok daging bernyawa bernama manusia, yang mana itu adalah anak saya. Merah terkena darah. Ari-ari masih menempel. Jenis kelamin perempuan, sesuai dengan hasil USG 4 dimensi-nya.
Perasaan deg-degan hilang sudah, setelah melihat anak saya dinyatakan sehat dan normal. Sejak istri masuk ke ruang persalinan memang saya sama sekali tidak khawatir, malah kadang ketika istri kesakitan karena kontraksi saya guyoni “Lha opo gunane melu hypnobirthing nek ijih loro…(lha apa gunanya ikut hypnobirthing kalau masih sakit)”…hehehe….Tapi ketika alat-alat untuk proses melahirkan disiapkan, baru deh mulai deg-deg serrr …Berbagai kekhawatiran tiba-tiba muncul…Bagaimana kalau begini…Bagaimana nanti kalau begitu..Dan sebagainya..Namun saya harus tenang dan telihat santai. Karena kalau saya justru panik, tentu akan mempengaruhi psikis istri saya. Itu yang pernah saya baca di buku. Dan saat itu harus saya praktekkan. Untung proses berjalan benar-benar cepat, tidak lebih dari setengah jam. Sehingga saya tidak perlu terlalu lama senam jantung dan macak santai.
Tak henti-hentinya saya bersyukur. Betapa tidak? Semua doa saya benar-benar dikabulkan oleh-Nya. Dalam doa, secara rinci saya meminta agar anak saya lahir pada hari sabtu/minggu agar saya dapat menunggui. Saya memohon pula agar kelahiran dapat berjalan cepat dan normal, tidak cesar. Semua dikabulkan. Bahkan Allah memberikan bonus lebih, oleh kantor saya ditugaskan dinas ke Jogja dari tanggal 22-30 November 2011. Alhamdulillah (sekali lagi tanpa “sesuatu banget ya…”). Puas deh bermain dengan anak.
Nama
Sejak awal kehamilan saya memang sudah mencari-cari nama untuk dua jenis kelamin. Dan pada saat kehamilan berjalan sekitar 6-7 bulan, saya sudah mendapatkan nama yang tepat untuk dua jenis kelamin. Setelah USG menunjukkan bahwa jenis kelaminnya kemungkinan perempuan pun, nama laki-laki yang saya siapkan pun tetap saya simpan. Dan nama-nama itu tidak ada yang saya beritahu, bahkan istri saya. Hingga bayi lahir, baru lah semua saya beritahu
Andai yang lahir adalah laki-laki, nama yang saya siapkan adalah Abdul Nafi Hamas Ekalaya. Abdul Nafi adalah Hamba dari Allah, Sang Maha Pemberi Manfaat. Hamas berarti pemberani. Dan Ekalaya diambil dari nama tokoh wayang Mahabarata bernama lengkap Bambang Ekalaya. Bersifat ksatria, teguh pendirian dan sakti. Bahkan kesaktiannya mengalahkan Arjuna lho
Jadi, harapannya sang anak akan menjadi hamba Allah (sang Pemberi Manfaat) yang pemberani dan ksatria seperti Ekalaya. Namun ternyata nama ini belum terpakai untuk saat ini. Mungkin nanti saya pakai untuk anak kedua, ketiga, keempat atau kelima (atau mungkin ke enam)
Dan untuk nama perempuannya adalah Kaniraras Syifa Edelweiss. Kaniraras adalah tokoh wayang jawa di Mahabarata. Tidak ada di Mahabarata versi Hindu. Dia adalah tokoh bidadari khayangan. Perlambang orang cerdas dan berperadaban maju. Syifa adalah seorang perempuan sahabat nabi (Asy Syifa). Pada jaman itu termasuk sahabiyah Nabi yang cerdas. Sering memberi pelajaran kepada orang-orang jaman itu, termasuk salah satu istri Nabi.
Dan Edelweiss adalah perlambang bunga abadi. Bunga yang tak berubah bentuk dan wujud walau sudah dipetik. Sedangkan secara bahasa, Edelweiss itu sendiri artinya dalam bahasa Jerman adalah putih mulia.
Jadi Kaniraras Syifa Edelweiss berarti sebuah harapan dan doa agar engkau menjadi seorang yang cantik dan pandai seperti bidadari Kaniraras, cerdas dan soleh seperti Syifa serta kecantikan, kecerdasan dan kesolehanmu dapat abadi seperti bunga abadi Edelweiss.
Khusus untuk kata “Edelweiss” ada alasan lain mengapa nama itu saya berikan kepada anak saya. Mungkin artikel selanjutnya akan saya ceritakan J
Kenapa pasti ada nama wayangnya dan arab?
Setiap nama yang saya siapkan selalu mengandung unsur nama wayang dan nama arab. Karena menurut saya, selain sebagai doa dan pengharapan, nama adalah identitas pemiliknya. Nama wayang saya maksudkan sebagai identitas bahwa anak saya berasal dari Jawa. Dan nama Arab yang identik dengan kultur Islam, saya maksudkan sebagai identitas bahwa anak saya adalah seorang muslim.
Kalimat “apalah arti sebuah nama” sama sekali tidak berlaku bagi saya. Karena bagi saya nama sangatlah berarti, baik bagi sang anak maupun orang tua. Dan sekali lagi, nama adalah sebuah doa, pengharapan dan identitas.
Alhamdulillah (tanpa “sesuatu banget ya…”)… Anakku lahir…Selamat dan sehat…
Hari itu memang seperti hari-hari Sabtu biasa. Yang berbeda hanya tanggalnya. Sabtu itu tanggal 19 November 2011. Saya pulang ke Jogja sebagai rutinitas mingguan. Maklum perantau mingguan
Bahkan rencananya, Sabtu itu saya akan masak bersama istri seperti hari sabtu biasanya. Tapi sejak pagi kok istri saya selalu merasakan kontraksi yang intens setiap 5 menit. Karena dulu pernah terjadi kontraksi palsu, jadi hari itu istri saya tidak mau langsung dibawa ke rumah sakit. Mau menunggu dulu sampai jam 12 siang. Karena beberapa hari sebelumnya juga pernah terjadi pendarahan dan kontraksi serupa, namun setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata kontraksi palsu dan belum ada tanda-tanda pembukaan.
Saat itu pun tidak terpikir akan terjadi proses kelahiran. Mengingat hari perkiraan lahirnya tanggal 30 November 2011.

