Mengapa Edelweiss?

Sesuai janji saya di artikel sebelumnya, saya akan menceritakan alasan lain mengapa nama Edelweiss saya pilih untuk anak saya. Disamping arti kata dan makna Edelweiss seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya tersebut, saya mempunyai kisah tersendiri mengapa Edelweiss saya jadikan nama untuk putri pertama saya. (iiiih…jadi maluuuu…)
Dulu saya sering sekali naik gunung, kira-kira pada saat SMA dan kuliah. Awal mula hobi tersebut karena saat SMA saya tergabung dalam organisasi pecinta alam di SMA saya (SMA 8 Yogyakarta).
Pada tahun pertama mengenal aktivitas pendakian, saya sangat antusias sekali. Setiap mendaki gunung, saya selalu mengambil batu/kerikil untuk kenang-kenangan bahwa dulu saya pernah mendaki gunung tersebut. Kadang saya juga memberikan kepada istri saya yang saat itu masih teman dekat, ya sebut aja pacaran atau calon istri. Dengan sok gagah saya berikan sebagai kenang-kenangan dengan sedikit rasa pamer di hati “hebat kan bisa sampai puncak gunung”.
Nah suatu saat pada saat pertama kali mendaki Gunung Merbabu tahun 2001, saya baru tahu ada bunga Edelweiss (atau banyak yang bilang Edelweiss Jawa). Kawan-kawan bilang itu adalah bunga keabadian karena tidak dapat layu walau sudah dipetik.
Dengan sedikit berjiwa romantis, saya ambilkan seikat Edelweiss itu kemudian saya ikat dengan benang merah. Sesampai di kota, saya serahkan bunga itu kepada calon istri saya. Bunga Edelweiss perlambang cinta abadi saya, dan benang merah perlambang cinta. Begitu maksud saya saat itu. Walau sebenarnya saya bukanlah orang yang romantis (bahkan cenderung cuek bebek), tapi entah waktu itu terpikir begitu saja.
Sejak bergabung dengan pecinta alam di SMA, saya menjadi tertarik dengan isu-isu lingkungan. Ketertarikan tersebut membuat saya senang membaca artikel tentang lingkungan. Hingga akhirnya pada tahun sekitar 2003, saya membaca artikel bahwa bunga Edelweiss ternyata bunga yang langka. Sudah sedikit sekali jumlahnya.
Tiba-tiba saya teringat salah satu etika pecinta alam “jangan ambil apapun kecuali gambar”. Hilang sudah rasa bangga, rasa pamer, rasa menang, rasa sok hebat yang dulu terasa saat mengambil batu/kerikil dan bunga Edelweiss. Yang tersisa hanya rasa malu. Akhirnya saya berniat untuk mengembalikan batu/kerikil dan bunga Edelweiss yang sudah saya ambil tersebut.
Dan ketika di sebuah pendakian ke Merbabu (kalau tidak salah pada saat SMA atau awal kuliah), saya bawa semua batu/kerikil yang pernah saya ambil. Saya juga minta kembali bunga Edelweiss yang sudah saya berikan ke calon istri saya, walau sebenarnya sungkan dan berat hati. Akhirnya ketika ditengah perjalanan dalam pendakian, saya taruh kembali batu/kerikil dan bunga tersebut. Walau kerikil itu saya ambil dari berbagai gunung lain, setidaknya saya kembalikan lagi ke alam liar (walau hanya di Merbabu). Begitu juga walau bunga tersebut tidak mungkin saya sambungkan kembali ke pohonnya, setidaknya saya kembalikan ke alam aslinya.
Seiring berjalannya waktu, ternyata Allah meridhoi calon istri saya tersebut benar-benar menjadi istri saya. Nah karena itu lah ketika kemarin istri saya hamil, saya memilih nama Edelweiss dengan maksud mengembalikan kembali Edelweiss yang dulu pernah saya berikan namun saya minta kembali. Tapi, kali ini Edelweiss yang saya berikan jauh lebih istimewa, tidak hanya sekedar bunga. Tidak hanya sekedar perlambang. Namun Edelweiss berupa Kaniraras Syifa Edelweiss.



