Skip to content

Tidak Normalkah Punk?

December 17, 2011

Seperti kita tahu bahwa beberapa saat lalu muncul berita bahwa terjadi penangkapan beberapa anak punk di Aceh oleh aparat kepolisian ketika diselenggarakannya sebuah konser musik.

Dari beberapa sumber berita seperti di situs ini, ini, ini dan ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwa penangkapan tersebut bukanlah karena mereka melakukan tindak kriminal, namun aparat kepolisian “hanya sekedar” membantu polisi syariah dalam menegakkan hukum adat dan hukum syariat. Dan punk dianggap ancaman dan tidak sesuai hukum adat dan syariah.

Jika kita berasumsi bahwa berita pada sumber yang saya sebutkan tadi benar, saya rasa ada beberapa hal yang kurang pas dalam penangkapan tersebut.

Disebutkan bahwa “Didampingi pengurus Komite Pengutan Aqidah dan Peningkatan Amalan Islam (KPA-PAI) Wirzaini Usman, ia mengatakan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk memberikan pembinaan agar mereka kembali hidup normal”. Pertanyaannya adalah, hidup normal itu yang seperti apa? Hanya karena berbeda, apakah lantas berhak melabeli orang lain sebagai  “tidak normal” dan boleh ditangkap padahal tidak melakukan tindakan kriminal?

Dengar-dengar, konser yang diselenggarakan komunitas tersebut adalah konser amal. Kalau memang begitu adanya, bukankah positif sekali kegiatan tersebut? Namun coba baca salah satu statemen dari Kepala Polresta Banda Aceh yang tertulis di salah satu artikel tersebut:

“Alasannya Aceh ini kan syariat Islam, jadi makanya walikota melakukan pembinaan terhadap anak-anak itu. Konsernya begini mbak, mereka menggunakan komunitas anak Aceh, Waktu meminta ijinnya ke MPU itu minta rekomendasi itu seolah-olah Komunitas Anak Aceh untuk mencari dana fakir miskin dan anak yatim , Nah ulama disitu bilang wah ini bagus, akhirnya mengeluarkan rekomendasi lah. Datangnya rapi bukan dengan rambut jabrik segala macam kemudian rekomendasi itu turun ke Polres. Polres juga dengan rekomendasi MPU itu kita memberi ijin. Dalam pelaksanaannya ya udah kumpul anak-anak punk ada yang dari Bali, dari Medan, Lampung. Rupanya sudah direncanakan oleh mereka seolah-olah anak punk di Aceh deklarasi lah mereka bahwa anak punk boleh eksis di Aceh.”

Saya berpikir, lha memangnya berbuat baik dan berbuat amal, apa hanya dimonopoli mereka yang berbaju rapi? Hey ingat, banyak pula mereka yang berbaju rapi justru jadi maling. Dan lucunya, dengan datangnya komunitas punk dari berbagai daerah, Bapak Kapolresta tersebut berpikir kawan-kawan punk itu mau mendeklarasikan eksistensinya seolah mau merdeka macam GAM, OPM dan sejenisnya. Sungguh lucu. Mungkin sekedar info untuk Bapak Kapolresta terhormat, di acara seperti itu sudah biasa kalau dihadiri oleh kawan-kawan dari daerah lain. Tidak ada maksud apa-apa. Just have fun together!

Saya sendiri memang belum pernah ke Aceh. Dan tidak ada di sana ketika penangkapan tersebut terjadi. Belum pernah pula tahu tentang hukum di Aceh, yang katanya beda dengan daerah lain. Tidak tahu pula dengan polisi syariah itu seperti apa, hak-nya apa saja dan kewajibannya apa saja.

Hanya saja jika memang pemberitaan tersebut benar adanya, yang terpikir oleh saya adalah, apakah salah menjadi berbeda dari orang kebanyakan? Berbeda di sini mungkin tidak sekedar pakaiannya, musiknya, namun  bisa juga pola pikirnya.

Jadi teringat ketika pada suatu kesempatan teman kantor saya pernah bilang “wah hidupnya anak punk itu tentu resikonya kecil ya, karena tidak punya tujuan hidup”. Pada kesempatan lainnya teman kantor saya yang lain pernah pula berkomentar ketika melihat serombongan anak punk berjalan di trotoar “Orang seperti itu tuh yang dipikirnya cuma hidup untuk hari ini, hari besok ya mikirnya besok…”. Dan saya cuma tersenyum. Tersenyum kecut. Tidak menjawab apa-apa. Karena malas juga mau menjawab. Karena saya tahu sudut pandang kami berbeda dalam melihat hal tersebut, jadi bakal menjadi obrolan panjang kalau diteruskan.

Saya tidak terlalu menyalahkan teman kantor saya tersebut atas pendapatnya. Karena pola pikir mereka yang “begitu-begitu saja”, tidak pernah melihat sudut pandang lain dan tentunya belum pernah mengenal lebih dekat tentang komunitas punk, pada akhirnya mereka hanya menyimpulkan dari kulitnya saja. Mereka mungkin tidak tahu bahwa scene (atau sebut saja komunitas) ini punya banyak hal positif.

Scene ini mengenalkan bagaimana menjadi orang yang kritis terhadap media, tidak percaya begitu saja dengan hasutan. Scene ini melahirkan banyak pula insan-insan berkegiatan positif yang mungkin justru tidak pernah dilakukan orang-orang “normal” seperti kawan kantor saya tadi. Banyak kegiatan amal yang dibungkus dengan acara musik maupun non musik diadakan oleh komunitas ini. Banyak pula kegiatan seni diselenggarakan, seperti artwork, pameran zine dan sebagainya. Banyak sekali kegiatan sosial diikuti oleh kawan-kawan dari scene ini, seperti aktif dalam kegiatan Food Not Bomb, PETA, organisasi penyelamat orang utan dan sebagainya. Banyak pula hal-hal positif yang dikenalkan oleh scene ini seperti straight edge, ekologi, budaya saling menghormati dan banyak hal lainnya.

Dan yang sering salah kaprah, banyak orang mengira bahwa punk itu dandanannya harus sama dan seragam serta bertato. Mereka tidak tahu bahwa banyak pula kawan-kawan punk yang dandanannya biasa saja. Dandanan bukanlah poin penting dalam scene ini. Bukan berarti yang berdandan sangar itu lebih “punk” dibanding yang berdandan biasa, atau sebaliknya.

Yang kebanyakan orang kenal adalah punk itu yang ada di jalanan. Punk itu ya anak jalanan. Saya tidak menyangkal bahwa banyak kawan-kawan punk yang hidup di jalanan. Hal tersebut memang ada dan itu adalah pilihan. Dan saya hormati pilihan mereka. Tapi secara umum, punk sama sekali tidak ada korelasi dengan tempat dimana Anda tinggal. dan nongkrong. Mau di jalan, di rumah, di studio musik, di kontrakan, atau bahkan di masjid! Bahkan seandainya Anda naik kapal lalu terdampar di pulau tak berpenghuni dan hidup di sana selamanya, Anda tetap punk jika memang Anda mau.

Di artikel lain sebuah website,

seorang psikolog mengatakan bahwa anak punk biasanya adalah anak yang tidak mendapat perhatian dari orang tua dan sedang dalam tahap pencarian jati diri.

Yang saya ingin tanyakan kepada psikolog tersebut adalah “apakah Anda pernah benar-benar mendalami dan mengenal komunitas ini lebih dekat dalam beberapa tahun?”. Karena sejauh yang saya ketahui, komunitas ini berisi berbagai macam orang dari latar belakang yang berbeda dan kepribadian yang berbeda. Ada yang dari keluarga dengan orang tua yang cukup dalam memberi kasih sayang (atau kalau Anda mungkin menyebutnya sebagai “keluarga normal”), ada pula yang berasal dari keluarga yang mungkin Anda sebut “broken home”. Ada yang memang masih remaja, namun tak sedikit mereka yang sudah tua atau dewasa dan dalam kondisi yang mungkin Anda biasa sebut “mapan”. Saya rasa kondisi keluarga broken home atau anak berjiwa labil (mencari jati diri) tidak hanya dalam komunitas seperti ini, tapi ada dalam segala jenis komunitas. Apakah lantas para teroris dan para narapidana itu juga akan Anda sebut berasal dari keluarga broken home dan berjiwa labil? Ada baiknya tidak menyamaratakan semua kondisi dengan satu parameter.

Banyak yang tidak tahu pula bahwa kawan-kawan punk pun punya berbagai jenis pekerjaan sebagai mata pencaharian di berbagai bidang seperti musik dan seni, advertising, dagang, pegawai kantor, akuntan, buruh pabrik, dosen bahkan pengacara! Kalau memang ada kawan-kawan yang memilih mengamen, lalu kenapa? Itu hanya pekerjaan. Bukan satu parameter untuk mengukur mulia atau tidaknya seseorang.

Dan menariknya, dalam scene ini tidak ada kata “harus begini”, “harus begitu”, “harus seperti ini seperti itu”. Jadi jangan heran jika dalam scene ini ada bermacam-macam orang dengan berbagai jenis cara berpakaian, aktivitas yang disukai, pilihan politik, pekerjaan bahkan pola pikir. Karena memang tidak ada aturan “harus begini harus begitu”, tidak dapat dipungkiri banyak pula “anak punk” yang sekedar memahami kulitnya saja sehingga hanya sekedar mengartikan bahwa punk itu liar, punk itu bebas  sebebas-bebasnya dan tidak mau memahami lebih dalam sehingga justru meninggalkan esensi-esensi positif punk itu sendiri.

Itu sedikit yang saya ketahui tentang scene ini sejauh yang saya kenal.

Mungkin membaca artikel saya ini ada yang berpikir saya antek liberal, aktivis HAM bayaran Amerika Serikat dan berbagai label yang sering dialamatkan kepada orang-orang yang mempunyai pendapat “sedikit” berbeda atau tidak umum.

Antek liberal?  Wah saya sendiri justru sering tidak sepakat kok dengan pandangan kawan-kawan di Jaringan Islam Liberal. Antek Amerika? Lha wong status FB saya beberapa waktu lalu justru sering menghujat AS dan sekutunya. Saya tidak ditungganggi apa pun. Saya hanya mencoba berpikir simpel, “dalami sebelum menghakimi”. Itu saja.

Pembahasan ini akan langsung berakhir jika Anda berpikir “Ini Aceh. Aturannya seperti itu. Kalau nggak cocok dengan aturan tersebut, ya silakan angkat kaki dari tanah ini”. Selesai perkara. Tapi, menurut saya penegakan hukum adat dan syariah tidak dapat dibentengi dengan kalimat peninggalan feodal seperti itu, namun seharusnya dapat dilakukan dengan lebih menghargai perbedaan, karena tidak semua orang memiliki latar belakang, otak dan pola pikir yang seragam.

Gambar diambil dari: http://www.beritasatu.com/media/images/medium/16122011162514.jpg

6 Comments leave one →
  1. December 22, 2011 7:00 am

    ada yang bilang kalo ajang konser tersebut banyak anak punk yang mabuk dan bawa marijuana. nila setitik rusak susu sebelahmya. gitu mas ajik istilahnya

    • xwisnuajix permalink*
      December 22, 2011 7:16 am

      Saya sendiri kurang tahu secara persis saat acara berlangsung seperti apa. Memang kata kawan pena saya yang orang aceh, sering beberapa anak punk membawa sajam, miras dan ganja.

      Tapi, yang saya soroti adalah, mengapa lantas punk-nya yang dilarang eksis di aceh?
      Saya sendiri mendukung jika memang ada anak punk atau siapapun yang meresahkan dengan membawa sajam, miras dan ganja silakan dibekuk saja. Karena sebenarnya perbuatan yang membuat resah orang lain itu sungguh sangat “tidak punk”.

      Tapi sebaiknya pemerintah dan aparat tidak lantas menjustifikasi tanpa lebih dulu mendalami kasusnya.

      Sama hal nya misal ada segerombolan mahasiswa yang memakai ganja, apakah lantas label “mahasiswa” tidak boleh ada di aceh dan di aceh tidak boleh ada mahasiswa? Tentu tidak kan?

      Namun sayang ucapan dari wakil wali kota dan kapolresta tersebut menyebut label punk dan melarangnya hanya karena beberapa ulah anak punk. itu kan sama saja menyamaratakan secara sepihak dan secara tidak adil…

  2. February 13, 2012 3:41 am

    tertarik dengan kalimat
    “Saya berpikir, lha memangnya berbuat baik dan berbuat amal, apa hanya dimonopoli mereka yang berbaju rapi? Hey ingat, banyak pula mereka yang berbaju rapi justru jadi maling”
    kenapa kita harus memakai baju dan attribut “ala punk” ?

    • Wisnuajix permalink
      February 15, 2012 5:47 am

      Tidak ada yg mengharuskan harus beratribut punk,dim.. Hanya saja,pada kalimat tsb aku ingin menekankan bahwa siapa saja dpt berbuat baik.tentu dlm konteks umum.. Tdk hanya dimonopoli suatu golongan tertentu,namun semua orang berhak dan saya rasa wajib utk berbuat baik..apapun latar belakangnya,apapun pakaiannya.. :-)

      • February 16, 2012 11:27 am

        betul..betul… setuju.. :D
        belakangan ini banyak berfikir tentang umat muslim.. karena mengucapkan salam merupakan kebaikan.. tp bingung… sekarang umat islam gak keliatan.. berbaur dengan gaya umat agama lain.. sampe2 ada jilbab yg mirip kya suster.. terkadang kalau melihat dandanan punk.. tambah bingung lg gmn mau bedakan manakah yg islam.. orang membedakan yg berbaju kemeja saja susah..
        masi aktif bgt nih blognya.. nanti blog ku jg mau tak aktifkan lg deh..hehe
        teruslah menulis untuk perbaikan umat :)

  3. xwisnuajix permalink*
    February 16, 2012 2:16 pm

    @dimas
    hehehe….thanks sudah berkunjung…
    ya kalau pas pengen nulis ya nulis…kl pas lagi males ya jangan dipaksain…hehehe…nulis buat menuangkan uneg2 aja kok … dan semoga berguna buat yang baca….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.